Pelajaran 8 ( Syarat-syarat Wudhu )

on Kamis, 09 Agustus 2012

Pelajaran  8
SYARAT-SYARAT WUDHU

Wudu akan sah dengan syarat-syarat di bawah ini. Tentu-nya, dengan kurangnya salah satu dari mereka, wudu sese-orang menjadi tidak sah.

Syarat-syarat Wudu
1.       Syarat-syarat air dan tempat air:
a.       Air wudu harus suci (tidak najis).
b.       Air wudu harus mubah; bukan hasil rampasan  (gha-sab).*
c.       Air wudu harus air mutlaq (bukan air mudhaf).

d.       Tempat air wudu harus mubah, bukan barang ram-pasan (ghasab).
e.       Tempat air wudu bukan dari emas dan perak.
2.       Syarat-syarat anggota wudu:
a.       Harus suci.
b.       Tidak ada penghalang yang menghalangi sampainya air ke anggota.
3.       Syarat-syarat cara berwudu:
a.       Menjaga tertib (keteraturan dan urutan antaramalan wudu sebagaimana telah kita simak dalam amalan-amalan wudu).
b.       Menjaga muwalat (di antara amalan-amalan wudu tidak ada renggang waktu sehingga merusak keu-tuhan dan kesatuan wudu).
c.       Mengerjakan wudu sendiri dan secara langsung (tidak meminta tolong orang lain).
4.       Syarat-syarat pelaku wudu:
a.       Dia tidak berhalangan untuk menggunakan air.
b.       Berniat wudu untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. (bukan niat riya).

Syarat-syarat Air Wudu dan Tempatnya
1.       Tidak sah berwudu dengan air najis dan air mudhaf, baik pelaku tahu ataupun tidak, ataupun lupa bahwa air itu najis atau mudhaf. [1]
2.       Air wudu harus mubah. Maka, dalam keadaan-keadaan di bawah ini, wudu seseorang tidak sah:
a.       Berwudu dengan air yang pemiliknya tidak rela (ketidakrelaannya bisa diketahui dengan jelas).
b.       Air tidak jelas; apakah pemiliknya rela atau tidak.
c.       Air yang diwakafkan secara khusus seperti; kolam di suatu sekolah dan tempat wudu di sebagian hotel, losmen dan sebagainya.[2]
3.       Berwudu di sungai-sungai besar tidaklah apa-apa, walaupun pelaku wudu tidak tahu pasti; apakah pe-miliknya rela atau tidak, akan tetapi jika pemiliknya melarang, berdasarkan ihtiyath wajib hendaknya ia tidak berwudu di sana.[3]
4.       Jika air wudu berada di tempat hasil rampasan (ghasab), lalu berwudu dengannya, maka hukum wudu demikian ini tidaklah sah.[4]

Syarat-syarat Anggota Wudu
1.       Anggota wudu harus suci ketika dibasuh dan diusap.[5]
2.       Jika ada satu penghalang pada anggota wudu (anggota yang dibasuh) sehingga menghalangi sampainya air kepadanya, atau pada anggota yang diusap, walaupun tidak menghalangi sampainya air, maka penghalang itu harus dihilangkan terlebih dahulu.[6]
3.       Coretan pena, bercak warna, minyak dan krem, kalau tinggal warnanya saja tanpa zatnya, tidak dianggap sebagai penghalang air wudu. Akan tetapi jika masih ada zatnya (dan menghalangi kulit), harus dihilangkan.[7]

Syarat-syarat Cara Berwudu
1.       Tertib[8]: amalan-amalan wudu harus dikerjakan berda-sarkan urutan di bawah ini:
a.       Membasuh wajah
b.      Membasuh tangan kanan
c.       Membasuh tangan kiri
d.      Mengusap kepala
e.       Mengusap kaki kanan
f.        Mengusap kaki kiri
Jika tertib wudu dia atas ini tidak dijaga, wudunya tidak sah, sekalipun kaki kanan dan kaki kiri telah diusap secara bersamaan.*
2.       Kesinambungan (Muwalat)
a.       Muwalat yaitu mengerjakan secara bersambung dan tidak ada tenggat waktu pemisah di antara amalan-amalan wudu.
b.       Jika di antara amalan-amalan wudu terdapat tenggat waktu pemisah—dimana ketika hendak membasuh atau mengusap satu anggota wudu, anggota-angota wudu yang sudah dibasuh atau diusap sebelumnya telah kering—maka wudu demikian ini tidak sah.[9]

3.       Tidak Boleh Minta Tolong Orang Lain
a.       Seseorang yang mampu berwudu, maka tidak boleh minta tolong orang lain. Oleh karena itu, jika orang lain membasuh wajah dan kedua tangannya atau mengusap kepala dan kakinya, wudunya tidak sah.[10]
b.       Seseorang yang tidak mampu berwudu, hendaknya mencari pengganti agar berwudhu untuknya. Jika pengganti minta upah dan dia mampu membayar, maka berikanlah upahnya, akan tetapi dia sendiri tetap harus niat berwudu.[11]


Syarat-syarat Pelaku Wudu
1.       Jika seseorang tahu atau kuatir bahwa berwudu akan membuatnya sakit, maka dia harus bertayamum. Dan jika dia tetap saja berwudu, wudunya tidak sah. Namun, jika dia tidak tahu bahwa air berbahaya bagi dirinya lalu dia berwudu dengannya, kemudian dia tahu bahwa air itu ternyata berbahaya baginya, maka wudunya sah.[12]*
2.       Wudu harus dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Yakni, berwudu dengan niat menger-jakan perintah Allah Swt.[13]
3.       Niat tidak harus diucapkan dengan kata-kata atau di-lintaskan di dalam hati, bahkan sekedar sadar bahwa dirinya sedang berwudu, ini sudah cukup. Yakni, se-kiranya dia ditanya, “Kamu sedang mengerjakan apa?”, dia akan menjawab, “Saya sedang berwudu”.[14]

Masalah: Jika waktu salat sempit sehingga jika dia ber-wudu, seluruh atau sebagian dari salatnya dikerjakan di luar waktunya, maka dia harus bertayamum.[15]


Kesimpulan Pelajaran
1.       Air wudu harus suci, mutlak dan mubah. Maka, hukum berwudu dengan air najis dan air mudhaf dalam keadaan apapun tidak sah, baik najisnya air atau mudhaf-nya air itu diketahui ataupun tidak.
2.       Berwudu dengan air ghasab, jika diketahui bahwa air tersebut adalah air ghasab, maka wudunya tidak sah.
3.       Jika anggota wudu najis, maka wudunya tidak sah. Begitu juga, jika terdapat penghalang yang menghalangi sampainya air ke anggota wudu.
4.       Jika tertib dan muwalat wudu tidak dijaga, maka wudu-nya tidak sah.
5.       Seseorang yang mampu berwudu, dia tidak boleh minta tolong orang lain dalam membasuh dan mengusap.
6.       Wudu harus dilakukan dengan niat menunaikan perin-tah Allah Swt.
7.       Jika seseorang hendak berwudu dan akan mengakibat-kan seluruh atau sebagian dari salat dikerjakan di luar waktunya, maka dia harus bertayamum.




1. Seluruh marja’: air wudu dan ruangan yang dipakai untuk berwudu harus mubah (setelah masalah Taudhih Al-Masail, masalah ke-272, syarat ketiga). Tentang rampasan atau ghasab bisa merujuk pelajaran 45.
2.  Taudhih Al-Masail, masalah ke-265.
3. Al-’Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 225, masalah ke-6, 7, 8, dan Taudhih Al-Masail, masalah 267- 272.
4. Taudhih Al-Masail, masalah ke-271.
5. Ibid, syarat-syarat wudu, syarat keempat.
6. Ibid, hal. 35, syarat keenam.
7. Taudhih Al-Masail, hal 37, syarat ketiga belas dan masalah ke-259
8. Istiftaat, Jil. 1 hal. 36 dan 37, pertanyaan 40-45.
9. Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1, hal. 28.
i.    Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1, hal. 28 masalah ke-15. Taudhih Al-Masail, masalah ke-283.
ii.    Al-’Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 234
iii.    Taudhih Al-Masail, masalah ke-286.
10.   Al-’Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1 hal. 232. Taudhih Al-Masail, masalah ke-288 dan ke-672.
1. Khu’i: jika setelah berwudu, dia tahu bahwa air itu berbahaya bagi dirinya, namun bahayanya menurut syariat tidak sampai haram, maka wudunya sah. Gulpaigani: jika setelah berwudu tahu bahwa air berba-haya bagi dirinya, maka berdasarkan ihtiyath wajib, hendaknya selain berwudu juga bertayamum (masalah ke-294).
11.   Taudhih Al-Masail, hal 31; syarat kedelapan.
12.   Ibid, masalah ke-282.
13.   Ibid, masalah ke-280.

0 komentar:

Poskan Komentar